Minggu, 10 April 2016

http://husnaelok/2016/4/makalahmanajemencorporatedalamlembagapendidikanislam.com



MANAJEMEN CORPORATE DALAM
LEMBAGA PENDIDIKAN ISLAM
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Manajemen Mutu Pendidikan
Dosen Pengampu Dr.H. Fatah Syukur NC,M.Ag








R.A.Elok Husna Irfaniya (1403036085)


FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2015




I.            PENDAHULUAN
Pendidikan di era global ini mempunyai tantangan yang sangat berat dan beragam dalam meghadapi persaingan yang amat ketat dalam konteks regional, nasional, bahkan internasional. Globalisasi yang terus terjadi dengan kecepatan tinggi dan menyentuh setiap aspek kehidupan manusia secara global, begitu juga dalam bidang pendidikan. Demikian juga dengan Pendidikan, pada era ini harus mampu meningkatkan mutunya agar bisa bertahan dan bersaing dari terpaan globalisasi.Pendidikan berperan penting dalam meningkatkan SDM. Oleh karena itu, sangat penting bagi pembangunan Nasional untuk memfokuskan peningkatan mutu pendidikan. Pendidikan yang bermutu diperoleh dari sekolah yang bermutu.
Lembaga pendidikan islam juga mempunyai tantangan yang sangat besar dalam meningkatkan mutu pendidikan seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan IPTEK. Dampak dari pertumbuhan dan perkembangan tersebut adalah terjadinya persaingan yang semakin tinggi pada aspek kehidupan. Untuk menyikapi hal-hal tersebut diperlukan adanya Manajemen Corporate dalam Lembaga Pendidikan Islamguna untuk mewujudkan Pendidikan yang bermutu dan diminati oleh pelanggan dan merespons kebutuhan dan tuntutan masyarakat, baik secara Nasional maupun Internasional sehingga bisa bersaing pada tataran Global.
                             
II.            RUMUSAN MASALAH
A.    Apa Pengertian Manajemen Corporate dalam Lembaga Pendidikan Islam dan terdiri dari siapa saja koorporasi produksi pendidikan?
B.     Bagaimana Karakteristik Kepala Sekolah/Madrasah sebagai Wirausahawan?
C.     Bagaimana Strategi kewirausahawan bagi Sekolah/Madrasah?
D.    Bagaimana Pemasaran Jasa Pendidikan?









I.       PEMBAHASAN
A.    Manajemen Corporate dalam Lembaga Pendidikan Islam
Corporate pada dasarnya adalah suatu bentuk usaha kerja sama. Koorporasi produksi pendidikan terdiri atas penyelenggara, peserta dan pengguna hasil pendidikan dengan peran yang berbeda .[1]
Koorporasi produksi pendidikan terdiri atas:[2]
1.      Penyelenggara pendidikan yaitu satuan pendidikan yang didirikan oleh   Pemertintah atau Masyarakat swasta, didukung oleh pimpinan (seperti Kepala Sekolah, Rektor, dll), Pendidik (Guru dan Dosen), dan tenaga pendukung administrasi. Kontribusi dan peran penyelenggara dapat dalam bentuk dana investasi dan operasional, guru dan tenaga kependidikan, sarana belajar, kurikulum dan fasilitas pendudukung yang diperlukan nagi terlaksananya kegiatan pembelajaran yaitu produksi kompetensi.
2.      Peserta didik yang bekerja sama secara langsung dengan pendidik dalam melaksanakan transformasi ilmu pengetahuan yang dikaji sehingga menjadi sebuah kompetensi yang harus dimiliki peserta didik.alumni dikelompokan sebagai komoponen peserta didik yang berfungsi sebagai katalisator efektivitas dan efisiensi proses produksi kompetensi yang sesuai dengan pengalaman dan kebutuhan dunia kerja kependidikan dan non kependidikan.  
3.      Pengguna kompetensi hasil pendidikan yaitu orang tua dan keluarga peserta didik, masyarakat, bangsa dan Negarastakeholders pendidikan ini sangat mengharapkan proses produksi yang ada dalam lembaga pendidikan bisa berjalanm dengan baik dan berkualiotas sehingga bisa menghasilkan output yang bermutu. Mutu produksi dapat dijadikan sebagai jamninan yang bisa diberikan kepada stakeholders pendidikan sehuingga tidak enggan lagi untuk memberikan bantuan sebagai penunjang dalam melekasanakan proses pendidikan dan pengajaran. .
Lembaga pendidikan islam sebagai sebuah corporate suatu organisasi produksi yang menghasilkan jasa pendidikan yang dibeli oleh para konsumen.konsumen utama di lembaga pendidikan islam adalah para siswa atau mahasiswa dan stakeholders pendidikan lainnya. Lembaga pendidikan islam tidak mampu memasarkan hasil produksinya(jasa pendidikan) disebabkan mutunya tidak disenangi oleh konsumen, tidak memuaskan, tidak memberikan nilai tambah bagi peningkatan kompetensi individu atau siswa, layanan yang tidak memuaskan maka secara otomatis produk jasa yang ditawarkannya tidak akan laku atau tidak diminati oleh pelanggan(konsumen). Akibat dari produksi ini, sekolah dan madrasah akan mundur, peminat semakin berkurang dan jika tidak diperbaiki produksinta , akan ditinggilakn oleh konsumen yang pada akhirnya sekolah/madrasah akan ditutup.[3]
Berdasarkan ilustrasi di atas, keberadaan lembaga pendidikan islam tidak perlu alergi dengan konsep dalam bidang bisnis yang dibawa kedalam lembaga pendidikan islam. Sebab, konsep ini tidak semata-mata menekankan pada mencari laba yang sebanyak-banyaknya atau komersial, tetapi lebih menekankan pada efesiensi dan kreativitas dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas lembaga pendidikan islam. Untuk itu Kepala Sekolah/Madrasah sebagai manajer dituntut mempunyai  kemampuan sebagai entrepreneur dalam mengembangkan lembaga pendidikan yang berkualitas dan diminati oleh banyak pelanggan.[4]
Kemampuan entrepreneurship  ini menurut Kristanto (2009:3) adalah ilmu seni, maupun perilaku, sifat, ciri, dan watak seseorang yang memiliki kemampuan untuk mewujudkan gagasan inovatif ke dalam dunia nyata secara kreatif (create new and different). Berpikir sesuatu yang baru (kreativitas) dan bertindak untuk melakukan sesuatu yang baru (inovasi) guna untuk menciptakan nilai tambah (added value) agar mampi bersaing dengan tujuan menciptakan kemakmuran, baik individu maupun masyarakat yang akan menjadi fokus utama yang harus dikembangkan dalam melaksanakan tugas-tugas sebgai entrepreneur.[5]
 Hakikat dari konsep bisnis adalah menekankan pada efesiensi, kreativitas dan meningkatkan produktivitas serta menjaga kualitas. Begitu juga hakikat dari pemasaran pendidikan adalah memuaksan konsumen dan mengetahui terhadap apa yang diinginkan oleh konsumen bukan semata-mata hanya memasang iklan dan promosi yang mengelabuhi masyarakat agar tertarik dengan program-program yang ditawarkannya. Akan tetapi, sekolah atau madrasah harus mampu menyakinkan dan membuktikan kepada masyarakat sebagai konsumen pendidikan bahwa sekolah atau madrasah  ini benar-benar bermutu. [6]
Sekolah dan madrasah yang bermutu harus mempunyai standar mutu yang diinginkan dan program-program mutu yang bisa ditawarkan kepada masyarakat pengguna lembaga pendidikan. Program-program mutu ini harus disertai dengan proses yang berkualitas agar output yang dihasilakan sesuai dengan standar mutu yang telah diterapkan. Untuk menjalankan proses yang berkualitas, perlu adanya perencanaan strategis dan profesionalisme SDM yang menjalankan program0prigram mutu yang telah dibuat oleh sekolah atau madrasah. [7]
Strategi yang dapat dilaksanakan oleh sekolah dalam membuat perencanaan strategis meliputi evaluasi diri untuk menganalisis kekuatan, kelemahan, peluang dan tantanfgan sekolah atau madrasah pada saat ini. Kemudian dilanjutkan dengan penyusunan rencana program sekolah termasuk dalam pembiayaannya dengan mengacu pada skala prioritas dan kebijakan nasional sesuai dengan kondisi sekolah dan sumber daya yang tersedia. Dalam penyusunan program, sekolah harus menerapkan indicator atau target mutu yang akan dicapai. Kegiatan yang tidak kalah penting adalah melakukan monitporing dan evakuasi program yang telah direncananakan sesuai dengan pendanaannya untuk melihatr ketercapaian visi, misi dan tujuan yang telah diterapkan sesuai dengan kebijakan nasional dan target mutu yang dicapai serta mnelaporkan hasilnya kepada masyarakat dan pemerintah. Hasil evaluasi (proses dan output) ini selanjutnya dapat dipergunakan sebagai masukan untuk perncanaan/penyusunan program sekolah doi masa mendatang(tahun berikutnya). Demikian secara terus-menerus dapat dilakukan sebagai proses yang berkelanjutan.[8]
Dalam iklim yang kompetitif sekarang ini sulit bagi organisasi untuk dapat hidup dengan baik jika memiliki kemampuan untuk merubah hidup diri dengan cepat dan mampu berkembang seiring dengan berbagai tuntunan stakeholder. Kondisi ini berlaku hanpir pada keseluruhan organisasi baik yang bersifat profit maupun organisasi yang bersifat non-profit. Sekolah atau Madrasah sebagai lembaga pendidikan yang termasuk lembaga non-profit juga tidak terlepas dari fenomena ini. Itulah sebabnya dalam Lembaga Pendidikan harus mengetahui berbagai harapan dan kebutuhan stakeholder. Pemerintah dalam hal ini telah memberikan regulasi kepada Lembaga Pendidikan untuk selalu menyertakan stakeholder dalam seluruh kegiatan melalui apa yang disebut dengan komite sekolah.[9]
Secara alamiah proses hidup atau matinya suatu organisasi selalu tergantung kepada kemampuan sebuah organisasi memenuhi manajemen pendidikan. Demikian pula dengan sekolah harus selalu mampu mengidentifikasi kebutuhan stakeholder.Namun demikian, sebelum sekolah mengidentifikasi harapan dan kebutuhan stakeholder, sekolah harus mampu menentukan terlebih dahulu siapa-siapa yang menjadi stakeholdernya. Kondisi ini diperlukan karena tidak setiap organisasi memiliki produk atau layanan yang dapat dan cocok diperuntukan bagi semua orang. Oleh karena itu setiap organisasi harus mengetahui sasaran utama dari produk/layanan yang diberikannya.[10]


B.     Karakteristik Kepala Sekolah/Madrasah sebagai Wirausahawan
Peran Kepala Sekolah didasarkan pada PP No. 19 tahun 2005 pasal 38 menjelaskan bahwa kepala sekolah harus memliki kemampuan kepemimpinan dan kewirausahaan. Kemampuan ini mengharuskan kepala sekolah agar dapat menerapkan prinsip-prinsip kewirausahaan di sekolah.
Prinsip-prinsip kewirausahaan ini sebagaimana dijelaskan dalam standar kompetensi kepala sekolah berkaitan dengan hal-hal berikut[11]:
1.   Bertindak kreatif dan inovatif, mempunyai indikator-indikator sebagai berikut:
a.       Menciptakan pembaruan
b.      Merumuskan arti dan tujuan perubahan(inovasi) sekolah
c.       Menggunakan metode, teknik, dan proses perubahan sekolah
d.      Menciptakan program inovasi dan kreativitas
e.       Menciptakan keunggulan komporatif
f.       Mempromosikan sekolah
2.   Memberdayakan potensi sekolah, hal ini berkitan dengan:
a.       Merencanakan program pemberdayaan potensi sekolah
b.      Melaksanakan kegiatan pemberdayaan potensi sekolah
c.       Menjalin kerja sama dengan masyarakat baik lembaga pemerintah maupun swasta
3.   Menumbuhkan jiwa kewirausahaan warga sekolah. Hal ini berkaitan dengan
a.       Menumbuhkan kreativitas dan inovasi
b.      Mendorong warga sekolah untuk melakukan eksprementasi, prakarsa, keberanian moral untuk melakukan hal-hal baru
c.       Memberikan reward atau hasil-hasil kreativitas warga sekolah
d.      Menumbuhkan dan mengembangkan jiwa kewirausahaan warga sekolah.
Kepala sekolah sebagai wirausahawan yang unggul membutuhkan ketrampilan dasar manajemen (basic management skill) guna mencapai kompetensi yang unggul. Kompetensi yang dibutuhkan wirausaha sebagai berikut:[12]
1.      Human relation competence . Kompetensi ini berhubungan dengan kemampuan menjaga hubungan baik dengan setiap orang serta pihak yang berkepentingan dengan sekolah termasuk stakeholders pendidikan.
2.      Conceptual competence. Kompetensi ini berhubungan dengan kemampuan untuk membuat konsep kegiatan, event, produk yang baik dan peluang.
3.      Technical competence. Kompetensi ini berhubungan dengan teknik, strategi, cara, material dan tenaga kerja yang ada di dalam organisasi sekolah yang digunakan dalam melaksanakan proses untuk mencapai hasil yang telah direncanakan.
4.      Decision making competence. Kompetensi ini berkaitan dengan kemampuan untuk mengambil keputusan dengan tepat.
5.      Marketing competence. Kemampuan ini mencakup keahlian dalam melaksanakan riset pasar, memilih strategi pemasaran untuk menawarkan produk jasa pendidikan disuatu sekolah.
6.      Financial competence. Kompetensi dalam mengelola keuangan, terutama dalam mencari sumber pendanaan yang digunakan untuk operasional sekolah.
7.      Time management competence. Kemampuan yang harus dimilki kepala sekolah dalam mengatur waktu secara efektif dan efisien.
Kepala sekolah harus mempunyai keinginan yang kuat serta komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan merupakan modal awal yang harus dimiliki oleh kepala sekolah sebagai entrepreneur. Menurut Kin (2004: 22-23), Kepala sekolah sebagai manajer dan entrepreneur disekolah akan berhasil dengan baik jika menguasai kompetensi sebagai berikut[13] :
1.      Menguasai fakta-fakta dasar (command of basic facts). Penguasaan yang baik atas segala hal yang diperlukan dalam menjalankan proses.
2.      Mempunyai pengetahuan professional yang relevan (relevant professional knowledge). Pengetahuan teknis yang relevan berkaitan dengan teknik-teknik proses produksi yang ada di dalam sekolah, subtansi inti dan ekstensi sekolah, dan pemasaran pendidikan.
3.      Mempunyai sensitivitas yang berkelanjutan terhadap berbagai peristiwa  (continuing sensitivity to events). Sensitivitas yang cukup terhadap berbagai peristiwa yang terjadi di dalam organisasi sekolah dan kemampuan untuk menangani secara objektif.
4.      Pemecahan masalah dan ketrampilan-ketrampilan pembuatan keputusan (problem-solving and decision making skills). Kemampuan untuk menganalisis berbagai persoalan dan memberikan solusi atau pemecahan masalah secara efektif.
5.      Kemampuan dan ketrampilan sosial (social skill and abilities). Ketrampilan yang berkaitan dangan kemampuan dalam melaksanakan hubungan interpersonal di dalam organisasi sekolah. Kepala sekolah harus bisa mengelola diri dan mengelola orang lain dangan baik sehingga mampu mempengaruhi dan mengendalikan orang dalam konteks kerjasama agar dapat mencapai tujuan pendidikan yang ada di sekolah/madrasah.
6.      Pemain tim (tim layer). Kepala sekolah mampu memahami kebutuhan-kebutuhan secara individual dan organisasi, serta persyaratan-persyaratan yang dibtuhkan dalam melaksanakan kinerja tim di sekolah, dan mempunyai kemampuan dalam membangun kinerja tim yang produktif.
7.      Adaptabilitas (adaptability). Kemampuan yang dimiliki kepala sekolah dalam beradaptasi dalam berbabagai macam situasi dan kondisi, baik dalam lingkup internal dan eksternal organisasi sekolah.
8.      Ketahanan emosional (emotional resilience). Kepala sekolah mempunyai kemampuan dalam menangani stress dan tekanan.
9.      Proaktititas (proactivity). Kemampuan kepala sekolah dalam membuat antisipasi terhadap peristiwa yang mungkin terjadi dalam pelaksanaan program-program yang ada di sekolah agar proses bisa berjalan dengan baik dan sesuai dengan apa yang diharapkan.
10.  Kreativitas (creativity). Kepala sekolah sebagai entrepreneur dituntut harus mempunyai pemikiran yang terbuka dan kreatif dalam mengekola sekolah/madrasah sehinga mutu pendidikan bisa dicapai dengan baik.
11.  Kecerdasan mental atau otak (mental agility). Kepala sekolah harus mempunyai kemampuan yang cepat dalam memahami dan menangkap berbagai persoalan dan pandangan secara global terhadap situasi dan kondisi yang ada di dalam maupun luar sekolah.
12.  Keterampilan dan kebiasaan belajar secara berimbang (balanced learning habits and skills). Kepala sekolah sebagai manajer dan intrepreneur pendidikan harus mampu mengambil pembelajaran dari keseluruhan yang terjadi dalam aktivitas-aktivitas yang dilaksanakannya dalam proses kepemimpinan yang terjadi di disekolah/madrasah.
Karakteristik yang dikembangkan dalam sistem pengelolaan sekolah adalah model pribadi yang selalu bertindak dengan penuh semangat untuk mencapai tujuan, hidup proaktif, selalu berpandangan positif dalam memanfaatkan seumber daya dengan penuh kreatuvitas. Untuk mengembangkan karakterer seperti itu, diperlukan para pemimpin pendidikan dan guru-guru yang selalu menyempurnakan karakternya dalam menjalankan inovasi sekolah untuk menghasilkan oprosuk lulusann yang bermutu tinggi.
Untuk menghasilkan produk lulusan yang bermutu, diperlukan guru-guru kreatif dalam melakukan adopsi dan adaptasi. Dalam meningkatkan mutu pendidikan di sekolah/madrasah di perlukan adanya semangat untuk berkompetensi dan mengembangkan sikap organisasi yang toleran terhadap ide-ide baru. Proses ini menghendaki adanya sebuah dialog yang tiada henti dan berdedikasi untuk mengubah ide-ide besar ke dalam tindakan yang praktis yang dapat menunjang tumbuhnya perilaku yang ada pada kriteria ideal sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
               Karakteristik kewirausahawan menyangkut 3 dimensi, yaitu:
1.       Inovasi. Sifat inovasi mengacu pada pengembangan produk, jasa, atau proses unik yang meliputi upaya sadar untuk menciptakan tujuan tertentu, memfokuskan perubahan pada potensi sosial ekonomi organisasi berdasarkan pada kreativitas dan intuisi individu.
2.      Pengambilan resiko. Pengambilan resiko mengacu pada kemauan aktif untuk mengerjar peluang.
3.      Proaktif. Proaktif mengacu pada sifat asertif dan implementasi teknik pencarian peluang yang terus-menerus dan berksperimen untuk mengubah lingkungannya. [14]



C.    Strategi Kewirausahawan bagi Sekolah/Madrasah
Strategi kewirausahaan merupakan langkah pokok yang perlu ditempuh oleh Kepala Sekolah dalam mewujudkan sekolahnya sebagai organisasi yang bersifat kewirausahaan. Lupriyono dan Wacik (1998) menyatakan bahwa strategi kewirausahaan mencangkup :
1.      Pengembangan visi/misi
Langkah awal dalam mewirausahakan lembaga pendidikan adalah merumuskan visi/misi. Visi atau misi merupakan gambaran cita-cita atau kehendak sekolah yang ingin diwujudkan dalam masa yang akan datang. Visi sekolah harus dirumuskan dengan jelas, singkat dan mengandung dukungan nyata untuk mewujudkan perubahan atau inovasi yang bersifat entrepreneurial.
2.      Dorongan inovasi
Strategi ini menumbuh-suburkan dan mengembangkan gagasan orsinil dan inovatif. Karena itu, setiap kepala sekolah dalam mewirausahakan sekolahnya dituntut memliki agenda inovasi. Agenda inovasi ini menjadi alat spesifik dan utama dalam strategi mewirausahakan sekolah.
3.      Penstruktur iklim intrapreneurial
Langkah ini merupakan proses pembentukan unsur-unsur dan suasana yang mendukung atas terselenggaranya agenda inovasi. Dalam hal ini, komitmen manajemen dan kepemimpinan kepala sekolah serta profesionalisme staf/guru-guruitu sangat dibutuhkan. Tekanan penstrukturan iklim kewirausahaan berada pada penyempurnaan usaha-usaha yang dilakukan pihak sekolah dalam memantapkan sistem manajemennya.
Strategi ini didefiniskan sebagai corporate venturing yaitu sebuah proses internal organisasi yang pokok untuk mengembangkan produk, proses dan teknologi. Ketiganya diinstitusionalisasikan untuk kemakmuran jangka panjang. Menyangkut pengembangan produk, proses organisasional atau pengelolaan sekolah itu haruslah berorientasi pada perolehan hasil kinerja yang bermutu dan berorientasi pada kepuasan costumer sebagai pihak yang terlayani,. Menyangkut pengembangan proses, berarti pengelolaan sekolah itu sendiri harus berlangsung dalam penciptaan suasana-suasana yang menggairahkan, dinamis dan menyenangkan. Sedangkan yang menyangkut teknologi, berarti proses pengelolaan sekolah menawarkan usaha-usaha yang lebih praktis, efisien dalam menggunakan sarana dan peralatan teknologi yang semakin canggih.
Wirausaha dalam pendidkan pada dasarnya adala upaya untuk mengembangkan perilaku siswa melalui proses, strategi pelayanan untuk menghasilkan sebuah produk yang baru yang dapat memenuhi kebutuhan untuk beradaptasi pada perubahan sosial yang dinamis. Kewirausahaan didlam sekolah berarti suatu proses untuk mengejar peluang tanpa berhenti dengan menggunakan suatu strategi yang paling inovatif dalam menghasilkan mutu lulusdan yang mendapatkan keuntungan dari investasinya mengeluarkan biaya yang begitu banyak dengan niali keuntungan yang lebih tinggi daripada biaya yang diinvestasikannya. Pemikiran itu menggerakkan sekoalh/madrasah untuk menerpkan strategi peneglolaan sekolah yang kreatif inovatif yang sdelaluy dapat menjawab tantangan di masa depan. Dinamika hariannya penuih dengan ide baru, caracara kreatif dan inovatif dalam mengembangkan potensi diri siswa sehingga menghasilkan perilaku yang prodktif untu bertransformasi pada perkembangan kegiatan ilmu pengetahuan, teknologi dan ekonomi pada amsa depan. [15]







D.    Pemasaran Jasa Pendidikan
a.      Pengertian Pemasaran Jasa Pendidikan
Pemasaran adalah suatu proses sosial dan manjerial yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain.[16] Sedangkan yang dimaksud dengan  jasa adalah aktivitas, manfaat atau kepuasan yang ditawarkan untuk dijual. Dalam hal ini jasa berupa suatu kegiatan yang bermanfaat bagi pihak lain dalam memenuhi keinginan dan kebutuhannya.[17]
Jadi pemasaran jasa pendidikan adalah suatu proses sosial dalam merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan dan mengawasi yang didalamnya terdapat individu, anggota-anggota dan lembaga pendidikan agar mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan mempertukarkan produk yang bernilai kepada masyarakat.[18]
Lembaga pendidikan islam sebagai organisasi bergerka dalam bidang jasa ternasuk dalam sector nonprofit organization. Lembaga pendidikan sebagai organisasi nonprofit harus mampu menunjukkan kepada konsumen yang kita kenal dengan istilah stakeholders pendidikan bahwa sekolah/ madrasah yang dikelola merupakan sekolah/madrasah yang bermutu. Oleh karena itu lembaga pendidikan islam tidak boleh alergi dengan istilah marketing(pemasaran) pendidikan. Pemasaran adalah proses transaksional untuk meningkatkan harapan, keonginan, dan kebutuhan calon konsumen sehungga calon konsumen menjadi terangsang untuk memiliki produk yang ditawarksn drngan mengeluarkan imbalan sesuai yang telah disepakati. [19]

b.      Konsep Pemasaran Jasa Pendidikan
Menurut seorang ahli bidang manajemen pemasarab Philip Kotler, mengatakan bahwa ada 5 konsep alternative yang dilakukan oleh sebuah organisasi dalam menjalankan kegiatan pemasaran yaitu:


1.      Konsep produksi,
Berpandangan bahwa perusahaan membuat produksi yang sebanyak-banyaknya. Dengan produk massal ini akan diperoleh efisiensi dalam pemakaian input dan efisiensi dalam proses produksi. Kemudian perusahaan akan dapat menetapkan harga jual beli murah dari saingan. Hal ini sejalan dengan keinginan konsumen agar mereka mudah memperoleh barang yang mereka butuhkan. Jika hal ini diterapkan dalam jasa pendidikan, bukan berarti lembaga pendidikan menghasilkan lulusan masal dengan mengabaikan  mutu. Kemudian menurunkan uang kuliah agar lebih banyak peminat yang masuk. Konsep prosuksi dalam jasa pendidikan harus tetap memegang teguh kepada mutu lulusannya dan harga tidak terlalu tinggi.[20]
2.      Konsep Produk
Produsen menghasilkan produk yang sangat baik, meurut ukuran atau selera produsen sendiri bukan menurut kehendak konsumen, konsumen sedemikian banykanya sehingga selera merekapun sangat bervariasi. Selera konsumen tidak dapat diidentikan dengan selera produsen . inilah salah satu kesalahan yang terjadi pada konsep prosuk yang menyamakan selera konsumen dengan selera produsen. Akibatnya jika timbul pesaing baru yang kreatif dalam bidang produksi. Maka pengusaha yang menganut konsep produk akan kalah dalam persaingan.[21]
Jika hal ini diterapkan dalam lembaga pendidikan maka pimpinan lembaga tidak boleh berbuat sekehendaknya, walaupun dalam rangka ingin meningkatkan mutu. Pimpinan sekali-kali harus memonitor apa kehendak konsumen, apa keluhan-keluhan yang diobrolkan oleh para siswa, guru, tenaga administrasi dan sebagainya. Pimpinan lembaga pendidikan harus sering turun kebawah melihat ruang kelas, memperhatikan taman-taman, bertegur sapa dengan siswa, guru dan orang yang berkunjung ke sekolah.[22]
3.      Konsep Penjualan
Pengusaha yang menganut konsep penjualan berpendapat bahwa penting produsen menghasilkan produk, kemudian produk itu dijual ke pasar dengan menggunakan promosi. Produsen ini mempunyai keyakinan bahwa pemasaran dengan jalan promosi, konsumen di pengaruhi, dirangsang, dimotivasi untuk membeli maka mereka pasti akan membeli. Konsep ni banyak dianut oleh para produsen dan mereka juga berhasil dalam pemasarannya. Jika hal ini diterapkan dalam lembaga pendidikan, maka ada kecenderungan lembaga menggunakan surat kabar, TV, memasang iklan, layaknya seperti iklan barang. Iklan ini bisa saja asal ada bukti nyata yang menunjang kekuatan iklannya. Iklan tanpa usaha perbaikan mutu lembaga pendidikan maka akan berakibat sebaliknya.[23]
4.      Konsep Marketing
Konsep ini menyatakan bahwa produsen jangan memperhatikan diri sendiri, tetapi juga melihat selera konsumen. Konsep marketing ini lebih menekankan kepada kepuasan pada konsumen. Tujuan marketing ialah bagaimana usaha untuk memuaskan selera, memenuhi “needs and wants” dari konsumen.[24] Lembaga pendidikan yang menganut konsep ini, tahu persis apa yang harus dilakukan. Lembaga pendidikan bisnisnya bukan sekedar mengajar siswa tiap hari sesuai dengan jadwal kemudian melaksanakn ujian, lulus, habis perkara. Tapi juga harus lebih jauh dari itu. Siswa harus merasa puas dengan layanan dari lembaga pendidikan dalam banyak hal misalnya dalam suasana belajar mengajar, ruang kelas yang bersih, taman yang asri, tenaga pengajar yang ramah, laboratoriun, lapangan olahraga dan sebagainya harus siap melayani siswa.[25]
5.      Konsep Kemasyarakatan
Konsep ini menyatakan bahwa didalam dunia perusahaan harus bertanggung jawab pada masyarakat terhadap segala perilaku bisnisnya. Perusahaan harus menghasilkan produk yang dapat diandalkan, tidak cepat rusak, tidak berbahaya jika digunakan oleh konsumen dan turut menjaga kelestraian alam. Dunia bisnis harus hemat dalam menggunakan sumber alam dan turut mengadakan penghijauan. Demikian pula di sekolah juga harus bertanggung jawab terhadap masyarakat luas, mulai dari mutu lulusan yang dihasilkan. Jangan sampai lulusan yang dihasilkan malam membawa masalah di lingkungan masyarakat, berlagak titel kesarjanaan yang diperoleh. Lembaga pendidikan harus bertanggung jawab terhadap uang masyrakat yang di pungut dan digunakan. Sehingga betul-betul memberikan hasil maksimal buat kepentingan masyarakat.[26]
Fungsi pemasaran pendidikan adalah untuk membentuk citra, baik terhadap lembaga dalam upaya menarik minat sejumlah calon peserta didik. Untuk lembaga pendidikan harus mampu mengembangkan strategi dalam menawarkan jasa pendidikan. Kotler menjelaskan bahwa dalam pemasaran jasa tidak hanya mebutuhkan pemasaran eksternal saja, tetapi juga pemasaran internal dan pemasaran interaktif.
a.       Pemasaran internal (Internal Marketing) adalah pekerjaan yang dilakukan oleh sebuah organisasi pendidikan untuk melatih dan memotivasi para civitas akademik untuk melayani peserta didik dengan baik.
b.      Pemasaran Ekstrenal (External Marketing) adalah pekerjaan yang dilakukan oleh sebuah organisasi pendidikan untuk menyediakan , menetapkan harga, mendistribusikan dan mempromosikan jasa kepada seorang pelanggan.[27]
c.       Pemasaran Interaktif (Interactive Marketing) adalah keahlian civitas akademik dalam melayani pelanggan.















II.    ANALISIS
Manajemen corporate dalam lembaga pendidikan islam adalah suatu bentuk kerja sama dalam suatu organisasi sekolah yang berfungsi untuk menghasilkan jasa agar menghasilkan pendidikan yang bermutu. Didalam manajemen corporate terdapat kepala sekolah, rector , guru/dosen, tenaga administrasi,  siswa yang didik oleh guru, orang tua dan keluarga peserta didik, dan masyarakat sekitar.
Untuk menghasilkan pendidikan yang bermutu diperlukan adanya Kepala sekolah yang mempunyai karakteristik kewirausahaan berpikir sesuatu yang baru (kreativitas) dan bertindak untuk melakukan sesuatu yang baru (inovasi). Selain itu kepala sekolah diharuskan mempunyai kompetensi dalam Menguasai fakta-fakta dasar, Mempunyai Pengetahuan teknis yang relevan berkaitan dengan teknik-teknik proses produksi yang ada di dalam sekolah, subtansi inti dan ekstensi sekolah, dan pemasatan pendidik, Mempunyai Sensitivitas yang cukup terhadap berbagai peristiwa yang terjadi di dalam organisasi sekolah dan kemampuan untuk menangani secara objektik, Kepala sekolah sebagai entrepreneur dituntut harus mempunyai pemikiran yang terbuka dan kreatif dalam mengelola sekolah/,madrasah sehinga mutu pendidikan bisa dicapai dengan baik, Kecerdasan Kepala sekolah harus mempunyai kemampuan yang cepat dalam memahami dan menangkap berbagai persoalan dan pandangan secara global terhadap situasi dan kondisi yang ada di dalam maupun luar sekolah, Keterampilan dan kebiasaan belajar secara berimbang, dan lain sebagainya.
Kepala sekolah mampu mempromosikan sekolahnya dengan baik agar masyarakat banyak yang mendaftarkan putra/putrinya masuk ke lembaga pendidikan yang dikelola. Dalam mempromosikan jasa pendidikan yang dikelola dibutuhkan strategi yang berkualitas, didalam menjalankan strategi kepala sekolah diharuskan teliti dalam melakukan hal, mampu menahan emosinya, bersabar dalam menjalankan strategi yang telah diterpkan agar dapat berjalan dengan baik. Dan Lembaga pendidikannya akan menjadi lebih bermutu.







III. KESIMPULAN
Corporate pada dasarnya adalah suatu bentuk usaha kerja sama. Koorporasi produksi pendidikan terdiri atas penyelenggara, peserta dan pengguna hasil pendidikan dengan peran yang berbeda.
Koorporasi produksi pendidikan terdiri atas:
1.      Penyelenggara pendidikan yaitu satuan pendidikan yang didirikan oleh Pemertintah atau Masyarakat swasta, didukung oleh pimpinan (seperti Kepala Sekolah, Rektor, dll), Pendidik (Guru dan Dosen), dan tenaga pendukung administrasi.
2.      Peserta didik yang bekerja sama secara langsung dengan pendidik dalam melaksanakan transformasi ilmu pengetahuan yang dikaji sehingga menjadi sebuah kompetensi yang harus dimiliki peserta didik.
3.      Pengguna kompetensi hasil pendidikan yaitu orang tua dan keluarga peserta didik, masyarakat, bangsa dan Negara
Prinsip-prinsip kewirausahaan ini sebagaimana dijelaskan dalam standar kompetensi kepala sekolah berkaitan dengan hal-hal berikut Bertindak kreatif dan inovatif, Memberdayakan potensi sekolah, Menumbuhkan jiwa kewirausahaan warga sekolah dan Menumbuhkan kreativitas dan inovasi.
Karakteristik yang dikembangkan dalam sistem pengelolaan sekolah adalah model pribadi yang selalu bertindak dengan penuh semangatt untuk mencapai tujuan, hidup proaktif, selalu berpandangan positif dalam memanfaatkan seumber daya dengan penuh kreatuvitas.Untuk mengembangkan karakterer seperti itu, diperlukan para pemimpin pendidikan dan guru-guru yang selalu menyempurnakan karakternya dalam menjalankan inovasi sekolah untuk menghasilkan oprosuk lulusann yang bermutu tinggi.
 Karakteristik kewirausahawan menyangkut 3 dimensi, yaitu: Inovasi, Pengambilan resiko dan Proaktif.
Strategi kewirausahaan mencangkup : Pengembangan visi/misi, Dorongan inovasi dan Penstruktur iklim intrapreneurial
Pemasaran jasa pendidikan adalah suatu proses sosial dalam merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan dan mengawasi yang didalamnya terdapat individu, anggota-anggota dan lembaga pendidikan agar mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan mempertukarkan produk yang bernilai kepada masyarakat.
Konsep yang dilakukan sebuahorganisasi dalam menjalankan kegiataqn-kegiatan pemasaran yaitu Konsep produksi, Konsep Produk, Konsep Penjualan, Konsep Marketing dan Konsep Kemasyarakatan


IV. PENUTUP
Demikian makalah ini kami buat,semoga dapat memberikan manfaat kepada pembaca pada umumnya, dan dapat memberikan suatu pemahaman kepada pemakalah secara khususnya.
Sekian dari kami apabila ada kesalahan atau kekurangan dalam penulisan makalah ini,kritik dan saran yang membangun sangat kami butuhkan. Dari kami minta maaf dan atas perhatian pembaca kami mengucapkan terima kasih




                                                        DAFTAR PUSTAKA
Alma,Buchari. 2003.Pemasaran Strategi Jasa Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Fandi, Tjipto.1999.Strategi Pemasaran. Yogyakarta: Andi Offset.
Halma, Buchari.2008. Manajemen Corporate dan Strategi Pemasaran Jasa Pendidikan Fokus pada Mutu dan Layanan Prima. Bandung: ALFABETA.
Kotler, Philip.1997. Manajemen Pemasaran. Jakarta: PT.Prehalindo.
Muhaimin, dkk. 2011.Manajemen Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Grup.
Mutohar, Prim Masrokan.2013. Manajemen Mutu Sekolah. Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA.
Ruslan, Rusadi. 2003.Manajemen Publik Relation Media Komunikasi Konsep dan Aplikasi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.


[1] Prim Masrokan Mutohar, Manajemen Mutu Sekolah, (Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA, 2013), hlm.191.
[2] Buchari Halma, Manajemen Corporate dan Strategi Pemasaran Jasa Pendidikan Fokus pada Mutu dan Layanan Prima, ( Bandung: ALFABETA, 2008), hlm. 139.
[3] Prim Marokan Mutohar, Manajemen Mutu Sekolah, (Yogjakarta: AR-RUZZ MEDIA, 2013), hlm.192-193.
[4] Prim Masrokan, Manajemen Mutu Sekolah, (Yogjakarta:AR-RUZZ MEDIA, 2013),  hlm.193.
[5] Prim Masrokan, Manajemen Mutu Sekolah, (Yogjakareta:AR-RUZZ MEDIA, 2013), hlm.193.
[6]Prim Masrokan Mutohar, Manajemen Mutu Sekolah, (Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA, 2013), hlm.193.
[7] Prim Masrokan, Manajemen Mutu Sekolah, (Yogjakarta: AR-RUZZ MEDIA, 2013), hlm. 194.
[8] Prim Masrokan, Manajemen Mutu Sekolah, (yogjakarta:AR-RUZZ MEDIA, 2013), hlm. 194.
[9]Muhaimin, dkk, Manajemen Pendidikan, (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2011), hlm.23-24.
[10] Muhaimin, dkk, Manajemen Pendidikan, (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2011), hlm.23-24.           
[11]Prim Masrokan Mutohar, Manajemen Mutu Sekolah, (Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA, 2013), hlm.195.
[12]Prim Masrokan Mutohar, Manajemen Mutu Sekolah, (Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA, 2013), hlm.197-198.
[13]Prim Masrokan Mutohar, Manajemen Mutu Sekolah, (Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA, 2013),hlm.200-202.
[14]Prim Masrokan Mutohar, Manajemen Mutu Sekolah, (Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA, 2013),hlm.202-203.
[15] Prim Masrokan Mutohar, Manajemen Mutu Sekolah, (Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA, 2013),hlm.211.
[16] Rusadi Ruslan, Manajemen Publik Relation Media Komunikasi Konsep dan Aplikasi , (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), hlm.26.
[17] Tjipto Fandi, Strategi Pemasaran, (Yogyakarta: Andi Offset, 1999), hlm.6.
[18] Buchari Alma, Pemasaran Strategi Jasa Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2003), hlm.65.
[19] Prim Masrokan Mutohar, Manajemen Mutu Sekolah, (Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA, 2013),hlm.216.
[20] Philip Kotler, Manajemen Pemasaran, (Jakarta: PT.prehalindo, 1997), hlm.9.
[21]Buchari Alma, Pemasaran Strategi Jasa Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2003), hlm.45.  
[22]Buchari Alma, Pemasaran Strategi Jasa Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2003), hlm.46.  
[23]Buchari Alma, Pemasaran Strategi Jasa Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2003), hlm.47.
[24]Philip Kotler, Manajemen Pemasaran, (Jakarta: PT.prehalindo, 1997), hlm.10.
[25]Rusadi Ruslan, Manajemen Publik Relation Media Komunikasi Konsep dan Aplikasi , (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), hlm.233.
[26]Buchari Alma, Pemasaran Strategi Jasa Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2003), hlm.50.
[27]Prim Masrokan Mutohar, Manajemen Mutu Sekolah, (Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA, 2013),  hlm.216.