MANAJEMEN
CORPORATE DALAM
LEMBAGA
PENDIDIKAN ISLAM
Disusun
Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Manajemen
Mutu Pendidikan
Dosen Pengampu Dr.H. Fatah Syukur NC,M.Ag
R.A.Elok Husna
Irfaniya (1403036085)
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2015
I.
PENDAHULUAN
Pendidikan di era
global ini mempunyai tantangan yang sangat berat dan beragam dalam meghadapi
persaingan yang amat ketat dalam konteks regional, nasional, bahkan
internasional. Globalisasi yang terus terjadi dengan kecepatan tinggi dan
menyentuh setiap aspek kehidupan manusia secara global, begitu juga dalam
bidang pendidikan. Demikian juga dengan Pendidikan, pada era ini harus mampu
meningkatkan mutunya agar bisa bertahan dan bersaing dari terpaan
globalisasi.Pendidikan berperan penting dalam meningkatkan SDM. Oleh karena
itu, sangat penting bagi pembangunan Nasional untuk memfokuskan peningkatan
mutu pendidikan. Pendidikan yang bermutu diperoleh dari sekolah yang bermutu.
Lembaga pendidikan islam juga mempunyai
tantangan yang sangat besar dalam meningkatkan mutu pendidikan seiring dengan
pertumbuhan dan perkembangan IPTEK. Dampak dari pertumbuhan dan perkembangan
tersebut adalah terjadinya persaingan yang semakin tinggi pada aspek kehidupan.
Untuk menyikapi hal-hal tersebut diperlukan adanya Manajemen Corporate dalam
Lembaga Pendidikan Islamguna untuk mewujudkan Pendidikan yang bermutu dan
diminati oleh pelanggan dan merespons kebutuhan dan tuntutan masyarakat, baik
secara Nasional maupun Internasional sehingga bisa bersaing pada tataran
Global.
II.
RUMUSAN
MASALAH
A.
Apa Pengertian Manajemen Corporate dalam
Lembaga Pendidikan Islam dan terdiri dari siapa saja koorporasi produksi pendidikan?
B.
Bagaimana Karakteristik Kepala Sekolah/Madrasah
sebagai Wirausahawan?
C.
Bagaimana Strategi kewirausahawan bagi
Sekolah/Madrasah?
D.
Bagaimana Pemasaran Jasa Pendidikan?
I.
PEMBAHASAN
A. Manajemen Corporate dalam Lembaga Pendidikan
Islam
Corporate pada
dasarnya adalah suatu bentuk usaha kerja sama. Koorporasi produksi pendidikan
terdiri atas penyelenggara, peserta dan pengguna hasil pendidikan dengan peran
yang berbeda .[1]
Koorporasi produksi pendidikan terdiri atas:[2]
1. Penyelenggara pendidikan
yaitu satuan pendidikan yang didirikan oleh Pemertintah atau Masyarakat swasta, didukung
oleh pimpinan (seperti Kepala Sekolah, Rektor, dll), Pendidik (Guru dan Dosen),
dan tenaga pendukung administrasi. Kontribusi dan peran penyelenggara dapat
dalam bentuk dana investasi dan operasional, guru dan tenaga kependidikan,
sarana belajar, kurikulum dan fasilitas pendudukung yang diperlukan nagi
terlaksananya kegiatan pembelajaran yaitu produksi kompetensi.
2. Peserta didik yang
bekerja sama secara langsung dengan pendidik dalam melaksanakan transformasi
ilmu pengetahuan yang dikaji sehingga menjadi sebuah kompetensi yang harus
dimiliki peserta didik.alumni dikelompokan sebagai komoponen peserta didik yang
berfungsi sebagai katalisator efektivitas dan efisiensi proses produksi
kompetensi yang sesuai dengan pengalaman dan kebutuhan dunia kerja kependidikan
dan non kependidikan.
3. Pengguna kompetensi
hasil pendidikan yaitu orang tua dan keluarga peserta didik, masyarakat, bangsa
dan Negarastakeholders pendidikan ini sangat mengharapkan proses produksi yang
ada dalam lembaga pendidikan bisa berjalanm dengan baik dan berkualiotas
sehingga bisa menghasilkan output yang bermutu. Mutu produksi dapat dijadikan
sebagai jamninan yang bisa diberikan kepada stakeholders pendidikan sehuingga
tidak enggan lagi untuk memberikan bantuan sebagai penunjang dalam
melekasanakan proses pendidikan dan pengajaran. .
Lembaga
pendidikan islam sebagai sebuah corporate suatu organisasi produksi yang
menghasilkan jasa pendidikan yang dibeli oleh para konsumen.konsumen utama di
lembaga pendidikan islam adalah para siswa atau mahasiswa dan stakeholders
pendidikan lainnya. Lembaga pendidikan islam tidak mampu memasarkan hasil
produksinya(jasa pendidikan) disebabkan mutunya tidak disenangi oleh konsumen,
tidak memuaskan, tidak memberikan nilai tambah bagi peningkatan kompetensi
individu atau siswa, layanan yang tidak memuaskan maka secara otomatis produk
jasa yang ditawarkannya tidak akan laku atau tidak diminati oleh pelanggan(konsumen).
Akibat dari produksi ini, sekolah dan madrasah akan mundur, peminat semakin
berkurang dan jika tidak diperbaiki produksinta , akan ditinggilakn oleh
konsumen yang pada akhirnya sekolah/madrasah akan ditutup.[3]
Berdasarkan
ilustrasi di atas, keberadaan lembaga pendidikan islam tidak perlu alergi
dengan konsep dalam bidang bisnis yang dibawa kedalam lembaga pendidikan islam.
Sebab, konsep ini tidak semata-mata menekankan pada mencari laba yang
sebanyak-banyaknya atau komersial, tetapi lebih menekankan pada efesiensi dan
kreativitas dalam meningkatkan produktivitas dan kualitas lembaga pendidikan
islam. Untuk itu Kepala Sekolah/Madrasah sebagai manajer dituntut
mempunyai kemampuan sebagai
entrepreneur dalam mengembangkan lembaga pendidikan yang berkualitas dan diminati
oleh banyak pelanggan.[4]
Kemampuan
entrepreneurship ini menurut
Kristanto (2009:3) adalah ilmu seni, maupun perilaku, sifat, ciri, dan watak
seseorang yang memiliki kemampuan untuk mewujudkan gagasan inovatif ke dalam
dunia nyata secara kreatif (create new and different). Berpikir sesuatu
yang baru (kreativitas) dan bertindak untuk melakukan sesuatu yang baru
(inovasi) guna untuk menciptakan nilai tambah (added value) agar mampi
bersaing dengan tujuan menciptakan kemakmuran, baik individu maupun masyarakat
yang akan menjadi fokus utama yang harus dikembangkan dalam melaksanakan
tugas-tugas sebgai entrepreneur.[5]
Hakikat dari konsep bisnis adalah menekankan pada efesiensi, kreativitas
dan meningkatkan produktivitas serta menjaga kualitas. Begitu juga hakikat dari
pemasaran pendidikan adalah memuaksan konsumen dan mengetahui terhadap apa yang
diinginkan oleh konsumen bukan semata-mata hanya memasang iklan dan promosi
yang mengelabuhi masyarakat agar tertarik dengan program-program yang
ditawarkannya. Akan tetapi, sekolah atau madrasah harus mampu menyakinkan dan
membuktikan kepada masyarakat sebagai konsumen pendidikan bahwa sekolah atau
madrasah ini benar-benar bermutu. [6]
Sekolah
dan madrasah yang bermutu harus mempunyai standar mutu yang diinginkan dan
program-program mutu yang bisa ditawarkan kepada masyarakat pengguna lembaga
pendidikan. Program-program mutu ini harus disertai dengan proses yang
berkualitas agar output yang dihasilakan sesuai dengan standar mutu yang telah
diterapkan. Untuk menjalankan proses yang berkualitas, perlu adanya perencanaan
strategis dan profesionalisme SDM yang menjalankan program0prigram mutu
yang telah dibuat oleh sekolah atau madrasah. [7]
Strategi
yang dapat dilaksanakan oleh sekolah dalam membuat perencanaan strategis
meliputi evaluasi diri untuk menganalisis kekuatan, kelemahan, peluang dan
tantanfgan sekolah atau madrasah pada saat ini. Kemudian dilanjutkan dengan
penyusunan rencana program sekolah termasuk dalam pembiayaannya dengan mengacu
pada skala prioritas dan kebijakan nasional sesuai dengan kondisi sekolah dan
sumber daya yang tersedia. Dalam penyusunan program, sekolah harus menerapkan
indicator atau target mutu yang akan dicapai. Kegiatan yang tidak kalah penting
adalah melakukan monitporing dan evakuasi program yang telah direncananakan
sesuai dengan pendanaannya untuk melihatr ketercapaian visi, misi dan tujuan
yang telah diterapkan sesuai dengan kebijakan nasional dan target mutu yang
dicapai serta mnelaporkan hasilnya kepada masyarakat dan pemerintah. Hasil
evaluasi (proses dan output) ini selanjutnya dapat dipergunakan sebagai masukan
untuk perncanaan/penyusunan program sekolah doi masa mendatang(tahun
berikutnya). Demikian secara terus-menerus dapat dilakukan sebagai proses yang
berkelanjutan.[8]
Dalam
iklim yang kompetitif sekarang ini sulit bagi organisasi untuk dapat hidup
dengan baik jika memiliki kemampuan untuk merubah hidup diri dengan cepat dan
mampu berkembang seiring dengan berbagai tuntunan stakeholder. Kondisi
ini berlaku hanpir pada keseluruhan organisasi baik yang bersifat profit maupun
organisasi yang bersifat non-profit. Sekolah atau Madrasah sebagai lembaga
pendidikan yang termasuk lembaga non-profit juga tidak terlepas dari fenomena
ini. Itulah sebabnya dalam Lembaga Pendidikan harus mengetahui berbagai harapan
dan kebutuhan stakeholder. Pemerintah dalam hal ini telah memberikan regulasi
kepada Lembaga Pendidikan untuk selalu menyertakan stakeholder dalam
seluruh kegiatan melalui apa yang disebut dengan komite sekolah.[9]
Secara alamiah proses hidup atau matinya
suatu organisasi selalu tergantung kepada kemampuan sebuah organisasi memenuhi
manajemen pendidikan. Demikian pula dengan sekolah harus selalu mampu
mengidentifikasi kebutuhan stakeholder.Namun demikian, sebelum sekolah
mengidentifikasi harapan dan kebutuhan stakeholder, sekolah harus mampu
menentukan terlebih dahulu siapa-siapa yang menjadi stakeholdernya. Kondisi
ini diperlukan karena tidak setiap organisasi memiliki produk atau layanan yang
dapat dan cocok diperuntukan bagi semua orang. Oleh karena itu setiap
organisasi harus mengetahui sasaran utama dari produk/layanan yang
diberikannya.[10]
B.
Karakteristik Kepala
Sekolah/Madrasah sebagai Wirausahawan
Peran Kepala Sekolah didasarkan pada PP No.
19 tahun 2005 pasal 38 menjelaskan bahwa kepala sekolah harus memliki kemampuan
kepemimpinan dan kewirausahaan. Kemampuan ini mengharuskan kepala sekolah agar
dapat menerapkan prinsip-prinsip kewirausahaan di sekolah.
Prinsip-prinsip kewirausahaan ini sebagaimana dijelaskan
dalam standar kompetensi kepala sekolah berkaitan dengan hal-hal berikut[11]:
1.
Bertindak kreatif dan inovatif,
mempunyai indikator-indikator sebagai berikut:
a.
Menciptakan pembaruan
b.
Merumuskan arti dan tujuan
perubahan(inovasi) sekolah
c.
Menggunakan metode, teknik, dan
proses perubahan sekolah
d.
Menciptakan program inovasi dan
kreativitas
e.
Menciptakan keunggulan komporatif
f.
Mempromosikan sekolah
2.
Memberdayakan potensi sekolah, hal
ini berkitan dengan:
a.
Merencanakan program pemberdayaan
potensi sekolah
b.
Melaksanakan kegiatan pemberdayaan
potensi sekolah
c.
Menjalin kerja sama dengan
masyarakat baik lembaga pemerintah maupun swasta
3.
Menumbuhkan jiwa kewirausahaan
warga sekolah. Hal ini berkaitan dengan
a.
Menumbuhkan kreativitas dan
inovasi
b.
Mendorong warga sekolah untuk
melakukan eksprementasi, prakarsa, keberanian moral untuk melakukan hal-hal
baru
c.
Memberikan reward atau
hasil-hasil kreativitas warga sekolah
d.
Menumbuhkan dan mengembangkan jiwa
kewirausahaan warga sekolah.
Kepala sekolah sebagai wirausahawan yang
unggul membutuhkan ketrampilan dasar manajemen (basic management skill)
guna mencapai kompetensi yang unggul. Kompetensi yang dibutuhkan wirausaha
sebagai berikut:[12]
1.
Human relation competence .
Kompetensi ini berhubungan dengan kemampuan menjaga hubungan baik dengan setiap
orang serta pihak yang berkepentingan dengan sekolah termasuk stakeholders pendidikan.
2.
Conceptual competence. Kompetensi
ini berhubungan dengan kemampuan untuk membuat konsep kegiatan, event, produk
yang baik dan peluang.
3.
Technical competence. Kompetensi
ini berhubungan dengan teknik, strategi, cara, material dan tenaga kerja yang
ada di dalam organisasi sekolah yang digunakan dalam melaksanakan proses untuk
mencapai hasil yang telah direncanakan.
4.
Decision making competence.
Kompetensi ini berkaitan dengan kemampuan untuk mengambil keputusan dengan
tepat.
5.
Marketing competence. Kemampuan
ini mencakup keahlian dalam melaksanakan riset pasar, memilih strategi
pemasaran untuk menawarkan produk jasa pendidikan disuatu sekolah.
6.
Financial competence. Kompetensi
dalam mengelola keuangan, terutama dalam mencari sumber pendanaan yang
digunakan untuk operasional sekolah.
7.
Time management competence.
Kemampuan yang harus dimilki kepala sekolah dalam mengatur waktu secara efektif
dan efisien.
Kepala sekolah harus mempunyai keinginan
yang kuat serta komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan merupakan modal
awal yang harus dimiliki oleh kepala sekolah sebagai entrepreneur.
Menurut Kin (2004: 22-23), Kepala sekolah sebagai manajer dan entrepreneur
disekolah akan berhasil dengan baik jika menguasai kompetensi sebagai berikut[13]
:
1.
Menguasai fakta-fakta dasar (command
of basic facts). Penguasaan yang baik atas segala hal yang diperlukan dalam
menjalankan proses.
2.
Mempunyai pengetahuan professional
yang relevan (relevant professional knowledge). Pengetahuan teknis yang relevan
berkaitan dengan teknik-teknik proses produksi yang ada di dalam sekolah,
subtansi inti dan ekstensi sekolah, dan pemasaran pendidikan.
3.
Mempunyai sensitivitas yang berkelanjutan
terhadap berbagai peristiwa (continuing
sensitivity to events). Sensitivitas yang cukup terhadap berbagai peristiwa
yang terjadi di dalam organisasi sekolah dan kemampuan untuk menangani secara
objektif.
4.
Pemecahan masalah dan
ketrampilan-ketrampilan pembuatan keputusan (problem-solving and decision
making skills). Kemampuan untuk menganalisis berbagai persoalan dan
memberikan solusi atau pemecahan masalah secara efektif.
5.
Kemampuan dan ketrampilan sosial (social
skill and abilities). Ketrampilan yang berkaitan dangan kemampuan dalam
melaksanakan hubungan interpersonal di dalam organisasi sekolah. Kepala sekolah
harus bisa mengelola diri dan mengelola orang lain dangan baik sehingga mampu
mempengaruhi dan mengendalikan orang dalam konteks kerjasama agar dapat
mencapai tujuan pendidikan yang ada di sekolah/madrasah.
6.
Pemain tim (tim layer).
Kepala sekolah mampu memahami kebutuhan-kebutuhan secara individual dan
organisasi, serta persyaratan-persyaratan yang dibtuhkan dalam melaksanakan
kinerja tim di sekolah, dan mempunyai kemampuan dalam membangun kinerja tim
yang produktif.
7.
Adaptabilitas (adaptability).
Kemampuan yang dimiliki kepala sekolah dalam beradaptasi dalam berbabagai macam
situasi dan kondisi, baik dalam lingkup internal dan eksternal organisasi
sekolah.
8.
Ketahanan emosional (emotional
resilience). Kepala sekolah mempunyai kemampuan dalam menangani stress dan
tekanan.
9.
Proaktititas (proactivity).
Kemampuan kepala sekolah dalam membuat antisipasi terhadap peristiwa yang
mungkin terjadi dalam pelaksanaan program-program yang ada di sekolah agar
proses bisa berjalan dengan baik dan sesuai dengan apa yang diharapkan.
10. Kreativitas (creativity). Kepala sekolah sebagai
entrepreneur dituntut harus mempunyai pemikiran yang terbuka dan kreatif dalam mengekola
sekolah/madrasah sehinga mutu pendidikan bisa dicapai dengan baik.
11. Kecerdasan mental atau otak (mental agility). Kepala
sekolah harus mempunyai kemampuan yang cepat dalam memahami dan menangkap
berbagai persoalan dan pandangan secara global terhadap situasi dan kondisi
yang ada di dalam maupun luar sekolah.
12. Keterampilan dan kebiasaan belajar secara berimbang (balanced
learning habits and skills). Kepala sekolah sebagai manajer dan intrepreneur
pendidikan harus mampu mengambil pembelajaran dari keseluruhan yang terjadi
dalam aktivitas-aktivitas yang dilaksanakannya dalam proses kepemimpinan yang
terjadi di disekolah/madrasah.
Karakteristik yang dikembangkan dalam
sistem pengelolaan sekolah adalah model pribadi yang selalu bertindak dengan
penuh semangat untuk mencapai tujuan, hidup proaktif, selalu berpandangan
positif dalam memanfaatkan seumber daya dengan penuh kreatuvitas. Untuk
mengembangkan karakterer seperti itu, diperlukan para pemimpin pendidikan dan
guru-guru yang selalu menyempurnakan karakternya dalam menjalankan inovasi
sekolah untuk menghasilkan oprosuk lulusann yang bermutu tinggi.
Untuk menghasilkan produk lulusan yang
bermutu, diperlukan guru-guru kreatif dalam melakukan adopsi dan adaptasi.
Dalam meningkatkan mutu pendidikan di sekolah/madrasah di perlukan adanya
semangat untuk berkompetensi dan mengembangkan sikap organisasi yang toleran
terhadap ide-ide baru. Proses ini menghendaki adanya sebuah dialog yang tiada
henti dan berdedikasi untuk mengubah ide-ide besar ke dalam tindakan yang
praktis yang dapat menunjang tumbuhnya perilaku yang ada pada kriteria ideal
sesuai dengan tujuan yang diharapkan.
Karakteristik kewirausahawan menyangkut 3 dimensi, yaitu:
1.
Inovasi. Sifat inovasi mengacu pada
pengembangan produk, jasa, atau proses unik yang meliputi upaya sadar untuk
menciptakan tujuan tertentu, memfokuskan perubahan pada potensi sosial ekonomi
organisasi berdasarkan pada kreativitas dan intuisi individu.
2.
Pengambilan resiko. Pengambilan
resiko mengacu pada kemauan aktif untuk mengerjar peluang.
3.
Proaktif. Proaktif mengacu pada
sifat asertif dan implementasi teknik pencarian peluang yang terus-menerus dan
berksperimen untuk mengubah lingkungannya. [14]
C.
Strategi Kewirausahawan
bagi Sekolah/Madrasah
Strategi kewirausahaan merupakan langkah
pokok yang perlu ditempuh oleh Kepala Sekolah dalam mewujudkan sekolahnya
sebagai organisasi yang bersifat kewirausahaan. Lupriyono dan Wacik (1998)
menyatakan bahwa strategi kewirausahaan mencangkup :
1.
Pengembangan visi/misi
Langkah awal dalam mewirausahakan lembaga
pendidikan adalah merumuskan visi/misi. Visi atau misi merupakan gambaran
cita-cita atau kehendak sekolah yang ingin diwujudkan dalam masa yang akan
datang. Visi sekolah harus dirumuskan dengan jelas, singkat dan mengandung
dukungan nyata untuk mewujudkan perubahan atau inovasi yang bersifat
entrepreneurial.
2.
Dorongan inovasi
Strategi ini menumbuh-suburkan dan
mengembangkan gagasan orsinil dan inovatif. Karena itu, setiap kepala sekolah
dalam mewirausahakan sekolahnya dituntut memliki agenda inovasi. Agenda inovasi
ini menjadi alat spesifik dan utama dalam strategi mewirausahakan sekolah.
3.
Penstruktur iklim intrapreneurial
Langkah ini merupakan proses pembentukan
unsur-unsur dan suasana yang mendukung atas terselenggaranya agenda inovasi.
Dalam hal ini, komitmen manajemen dan kepemimpinan kepala sekolah serta
profesionalisme staf/guru-guruitu sangat dibutuhkan. Tekanan penstrukturan
iklim kewirausahaan berada pada penyempurnaan usaha-usaha yang dilakukan pihak
sekolah dalam memantapkan sistem manajemennya.
Strategi ini didefiniskan sebagai corporate
venturing yaitu sebuah proses internal organisasi yang pokok untuk
mengembangkan produk, proses dan teknologi. Ketiganya diinstitusionalisasikan
untuk kemakmuran jangka panjang. Menyangkut pengembangan produk, proses
organisasional atau pengelolaan sekolah itu haruslah berorientasi pada
perolehan hasil kinerja yang bermutu dan berorientasi pada kepuasan costumer
sebagai pihak yang terlayani,. Menyangkut pengembangan proses, berarti
pengelolaan sekolah itu sendiri harus berlangsung dalam penciptaan
suasana-suasana yang menggairahkan, dinamis dan menyenangkan. Sedangkan yang
menyangkut teknologi, berarti proses pengelolaan sekolah menawarkan usaha-usaha
yang lebih praktis, efisien dalam menggunakan sarana dan peralatan teknologi
yang semakin canggih.
Wirausaha dalam pendidkan pada dasarnya
adala upaya untuk mengembangkan perilaku siswa melalui proses, strategi
pelayanan untuk menghasilkan sebuah produk yang baru yang dapat memenuhi
kebutuhan untuk beradaptasi pada perubahan sosial yang dinamis. Kewirausahaan
didlam sekolah berarti suatu proses untuk mengejar peluang tanpa berhenti
dengan menggunakan suatu strategi yang paling inovatif dalam menghasilkan mutu
lulusdan yang mendapatkan keuntungan dari investasinya mengeluarkan biaya yang
begitu banyak dengan niali keuntungan yang lebih tinggi daripada biaya yang
diinvestasikannya. Pemikiran itu menggerakkan sekoalh/madrasah untuk menerpkan
strategi peneglolaan sekolah yang kreatif inovatif yang sdelaluy dapat menjawab
tantangan di masa depan. Dinamika hariannya penuih dengan ide baru, caracara
kreatif dan inovatif dalam mengembangkan potensi diri siswa sehingga
menghasilkan perilaku yang prodktif untu bertransformasi pada perkembangan
kegiatan ilmu pengetahuan, teknologi dan ekonomi pada amsa depan. [15]
D.
Pemasaran Jasa Pendidikan
a.
Pengertian Pemasaran Jasa Pendidikan
Pemasaran adalah suatu proses sosial dan
manjerial yang didalamnya individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka
butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan, dan mempertukarkan produk
yang bernilai dengan pihak lain.[16]
Sedangkan yang dimaksud dengan jasa
adalah aktivitas, manfaat atau kepuasan yang ditawarkan untuk dijual. Dalam hal
ini jasa berupa suatu kegiatan yang bermanfaat bagi pihak lain dalam memenuhi
keinginan dan kebutuhannya.[17]
Jadi pemasaran jasa pendidikan adalah
suatu proses sosial dalam merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan dan
mengawasi yang didalamnya terdapat individu, anggota-anggota dan lembaga
pendidikan agar mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan
menciptakan, menawarkan, dan mempertukarkan produk yang bernilai kepada
masyarakat.[18]
Lembaga pendidikan islam sebagai
organisasi bergerka dalam bidang jasa ternasuk dalam sector nonprofit
organization. Lembaga pendidikan sebagai organisasi nonprofit harus mampu
menunjukkan kepada konsumen yang kita kenal dengan istilah stakeholders pendidikan
bahwa sekolah/ madrasah yang dikelola merupakan sekolah/madrasah yang bermutu.
Oleh karena itu lembaga pendidikan islam tidak boleh alergi dengan istilah marketing(pemasaran)
pendidikan. Pemasaran adalah proses transaksional untuk meningkatkan harapan,
keonginan, dan kebutuhan calon konsumen sehungga calon konsumen menjadi terangsang
untuk memiliki produk yang ditawarksn drngan mengeluarkan imbalan sesuai yang
telah disepakati. [19]
b.
Konsep Pemasaran Jasa
Pendidikan
Menurut seorang ahli bidang manajemen
pemasarab Philip Kotler, mengatakan bahwa ada 5 konsep alternative yang dilakukan
oleh sebuah organisasi dalam menjalankan kegiatan pemasaran yaitu:
1.
Konsep produksi,
Berpandangan bahwa perusahaan membuat
produksi yang sebanyak-banyaknya. Dengan produk massal ini akan diperoleh
efisiensi dalam pemakaian input dan efisiensi dalam proses produksi. Kemudian
perusahaan akan dapat menetapkan harga jual beli murah dari saingan. Hal ini
sejalan dengan keinginan konsumen agar mereka mudah memperoleh barang yang
mereka butuhkan. Jika hal ini diterapkan dalam jasa pendidikan, bukan berarti
lembaga pendidikan menghasilkan lulusan masal dengan mengabaikan mutu. Kemudian menurunkan uang kuliah agar
lebih banyak peminat yang masuk. Konsep prosuksi dalam jasa pendidikan harus
tetap memegang teguh kepada mutu lulusannya dan harga tidak terlalu tinggi.[20]
2.
Konsep Produk
Produsen menghasilkan produk yang sangat
baik, meurut ukuran atau selera produsen sendiri bukan menurut kehendak
konsumen, konsumen sedemikian banykanya sehingga selera merekapun sangat
bervariasi. Selera konsumen tidak dapat diidentikan dengan selera produsen .
inilah salah satu kesalahan yang terjadi pada konsep prosuk yang menyamakan
selera konsumen dengan selera produsen. Akibatnya jika timbul pesaing baru yang
kreatif dalam bidang produksi. Maka pengusaha yang menganut konsep produk akan
kalah dalam persaingan.[21]
Jika hal ini diterapkan dalam lembaga
pendidikan maka pimpinan lembaga tidak boleh berbuat sekehendaknya, walaupun
dalam rangka ingin meningkatkan mutu. Pimpinan sekali-kali harus memonitor apa
kehendak konsumen, apa keluhan-keluhan yang diobrolkan oleh para siswa, guru,
tenaga administrasi dan sebagainya. Pimpinan lembaga pendidikan harus sering
turun kebawah melihat ruang kelas, memperhatikan taman-taman, bertegur sapa
dengan siswa, guru dan orang yang berkunjung ke sekolah.[22]
3.
Konsep Penjualan
Pengusaha yang menganut konsep penjualan
berpendapat bahwa penting produsen menghasilkan produk, kemudian produk itu
dijual ke pasar dengan menggunakan promosi. Produsen ini mempunyai keyakinan
bahwa pemasaran dengan jalan promosi, konsumen di pengaruhi, dirangsang, dimotivasi
untuk membeli maka mereka pasti akan membeli. Konsep ni banyak dianut oleh para
produsen dan mereka juga berhasil dalam pemasarannya. Jika hal ini diterapkan
dalam lembaga pendidikan, maka ada kecenderungan lembaga menggunakan surat
kabar, TV, memasang iklan, layaknya seperti iklan barang. Iklan ini bisa saja
asal ada bukti nyata yang menunjang kekuatan iklannya. Iklan tanpa usaha
perbaikan mutu lembaga pendidikan maka akan berakibat sebaliknya.[23]
4.
Konsep Marketing
Konsep ini menyatakan bahwa produsen jangan
memperhatikan diri sendiri, tetapi juga melihat selera konsumen. Konsep
marketing ini lebih menekankan kepada kepuasan pada konsumen. Tujuan marketing
ialah bagaimana usaha untuk memuaskan selera, memenuhi “needs and wants”
dari konsumen.[24] Lembaga
pendidikan yang menganut konsep ini, tahu persis apa yang harus dilakukan.
Lembaga pendidikan bisnisnya bukan sekedar mengajar siswa tiap hari sesuai
dengan jadwal kemudian melaksanakn ujian, lulus, habis perkara. Tapi juga harus
lebih jauh dari itu. Siswa harus merasa puas dengan layanan dari lembaga
pendidikan dalam banyak hal misalnya dalam suasana belajar mengajar, ruang
kelas yang bersih, taman yang asri, tenaga pengajar yang ramah, laboratoriun,
lapangan olahraga dan sebagainya harus siap melayani siswa.[25]
5.
Konsep Kemasyarakatan
Konsep ini menyatakan bahwa didalam dunia
perusahaan harus bertanggung jawab pada masyarakat terhadap segala perilaku
bisnisnya. Perusahaan harus menghasilkan produk yang dapat diandalkan, tidak
cepat rusak, tidak berbahaya jika digunakan oleh konsumen dan turut menjaga
kelestraian alam. Dunia bisnis harus hemat dalam menggunakan sumber alam dan
turut mengadakan penghijauan. Demikian pula di sekolah juga harus bertanggung
jawab terhadap masyarakat luas, mulai dari mutu lulusan yang dihasilkan. Jangan
sampai lulusan yang dihasilkan malam membawa masalah di lingkungan masyarakat,
berlagak titel kesarjanaan yang diperoleh. Lembaga pendidikan harus bertanggung
jawab terhadap uang masyrakat yang di pungut dan digunakan. Sehingga betul-betul
memberikan hasil maksimal buat kepentingan masyarakat.[26]
Fungsi pemasaran pendidikan adalah untuk
membentuk citra, baik terhadap lembaga dalam upaya menarik minat sejumlah calon
peserta didik. Untuk lembaga pendidikan harus mampu mengembangkan strategi
dalam menawarkan jasa pendidikan. Kotler menjelaskan bahwa dalam pemasaran jasa
tidak hanya mebutuhkan pemasaran eksternal saja, tetapi juga pemasaran internal
dan pemasaran interaktif.
a.
Pemasaran internal (Internal Marketing)
adalah pekerjaan yang dilakukan oleh sebuah organisasi pendidikan untuk melatih
dan memotivasi para civitas akademik untuk melayani peserta didik dengan baik.
b.
Pemasaran Ekstrenal (External
Marketing) adalah pekerjaan yang dilakukan oleh sebuah organisasi
pendidikan untuk menyediakan , menetapkan harga, mendistribusikan dan
mempromosikan jasa kepada seorang pelanggan.[27]
c.
Pemasaran Interaktif (Interactive
Marketing) adalah keahlian civitas akademik dalam melayani pelanggan.
II.
ANALISIS
Manajemen corporate dalam lembaga
pendidikan islam adalah suatu bentuk kerja sama dalam suatu organisasi sekolah
yang berfungsi untuk menghasilkan jasa agar menghasilkan pendidikan yang
bermutu. Didalam manajemen corporate terdapat kepala sekolah, rector ,
guru/dosen, tenaga administrasi, siswa
yang didik oleh guru, orang tua dan keluarga peserta didik, dan masyarakat
sekitar.
Untuk menghasilkan pendidikan yang bermutu
diperlukan adanya Kepala sekolah yang mempunyai karakteristik kewirausahaan
berpikir sesuatu yang baru (kreativitas) dan bertindak untuk melakukan sesuatu
yang baru (inovasi). Selain itu kepala sekolah diharuskan mempunyai kompetensi
dalam Menguasai fakta-fakta dasar, Mempunyai Pengetahuan teknis yang relevan
berkaitan dengan teknik-teknik proses produksi yang ada di dalam sekolah,
subtansi inti dan ekstensi sekolah, dan pemasatan pendidik, Mempunyai
Sensitivitas yang cukup terhadap berbagai peristiwa yang terjadi di dalam
organisasi sekolah dan kemampuan untuk menangani secara objektik, Kepala
sekolah sebagai entrepreneur dituntut harus mempunyai pemikiran yang terbuka
dan kreatif dalam mengelola sekolah/,madrasah sehinga mutu pendidikan bisa
dicapai dengan baik, Kecerdasan Kepala sekolah harus mempunyai kemampuan yang
cepat dalam memahami dan menangkap berbagai persoalan dan pandangan secara
global terhadap situasi dan kondisi yang ada di dalam maupun luar sekolah, Keterampilan
dan kebiasaan belajar secara berimbang, dan lain sebagainya.
Kepala sekolah mampu mempromosikan
sekolahnya dengan baik agar masyarakat banyak yang mendaftarkan putra/putrinya
masuk ke lembaga pendidikan yang dikelola. Dalam mempromosikan jasa pendidikan
yang dikelola dibutuhkan strategi yang berkualitas, didalam menjalankan
strategi kepala sekolah diharuskan teliti dalam melakukan hal, mampu menahan
emosinya, bersabar dalam menjalankan strategi yang telah diterpkan agar dapat
berjalan dengan baik. Dan Lembaga pendidikannya akan menjadi lebih bermutu.
III. KESIMPULAN
Corporate pada
dasarnya adalah suatu bentuk usaha kerja sama. Koorporasi produksi pendidikan
terdiri atas penyelenggara, peserta dan pengguna hasil pendidikan dengan peran
yang berbeda.
Koorporasi produksi pendidikan terdiri atas:
1. Penyelenggara pendidikan yaitu satuan pendidikan yang didirikan oleh
Pemertintah atau Masyarakat swasta, didukung oleh pimpinan (seperti Kepala
Sekolah, Rektor, dll), Pendidik (Guru dan Dosen), dan tenaga pendukung
administrasi.
2. Peserta didik yang
bekerja sama secara langsung dengan pendidik dalam melaksanakan transformasi
ilmu pengetahuan yang dikaji sehingga menjadi sebuah kompetensi yang harus
dimiliki peserta didik.
3. Pengguna kompetensi
hasil pendidikan yaitu orang tua dan keluarga peserta didik, masyarakat, bangsa
dan Negara
Prinsip-prinsip kewirausahaan ini
sebagaimana dijelaskan dalam standar kompetensi kepala sekolah berkaitan dengan
hal-hal berikut Bertindak kreatif dan inovatif, Memberdayakan potensi sekolah,
Menumbuhkan jiwa kewirausahaan warga sekolah dan Menumbuhkan kreativitas dan
inovasi.
Karakteristik yang dikembangkan dalam
sistem pengelolaan sekolah adalah model pribadi yang selalu bertindak dengan
penuh semangatt untuk mencapai tujuan, hidup proaktif, selalu berpandangan
positif dalam memanfaatkan seumber daya dengan penuh kreatuvitas.Untuk
mengembangkan karakterer seperti itu, diperlukan para pemimpin pendidikan dan
guru-guru yang selalu menyempurnakan karakternya dalam menjalankan inovasi
sekolah untuk menghasilkan oprosuk lulusann yang bermutu tinggi.
Karakteristik kewirausahawan menyangkut 3
dimensi, yaitu: Inovasi, Pengambilan resiko dan Proaktif.
Strategi kewirausahaan mencangkup :
Pengembangan visi/misi, Dorongan inovasi dan Penstruktur iklim intrapreneurial
Pemasaran jasa pendidikan adalah suatu
proses sosial dalam merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan dan mengawasi
yang didalamnya terdapat individu, anggota-anggota dan lembaga pendidikan agar
mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan,
dan mempertukarkan produk yang bernilai kepada masyarakat.
Konsep yang dilakukan sebuahorganisasi
dalam menjalankan kegiataqn-kegiatan pemasaran yaitu Konsep produksi, Konsep
Produk, Konsep Penjualan, Konsep Marketing dan Konsep Kemasyarakatan
IV. PENUTUP
Demikian makalah ini kami buat,semoga dapat memberikan
manfaat kepada pembaca pada umumnya, dan dapat memberikan suatu pemahaman
kepada pemakalah secara khususnya.
Sekian dari kami apabila ada kesalahan atau
kekurangan dalam penulisan makalah ini,kritik dan saran yang membangun sangat
kami butuhkan. Dari kami minta maaf dan atas perhatian pembaca kami mengucapkan
terima kasih
DAFTAR
PUSTAKA
Alma,Buchari.
2003.Pemasaran Strategi Jasa Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Fandi,
Tjipto.1999.Strategi Pemasaran. Yogyakarta: Andi Offset.
Halma,
Buchari.2008. Manajemen Corporate dan Strategi Pemasaran Jasa Pendidikan
Fokus pada Mutu dan Layanan Prima. Bandung: ALFABETA.
Kotler,
Philip.1997. Manajemen Pemasaran. Jakarta: PT.Prehalindo.
Muhaimin,
dkk. 2011.Manajemen Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Grup.
Mutohar,
Prim Masrokan.2013. Manajemen Mutu Sekolah. Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA.
Ruslan,
Rusadi. 2003.Manajemen Publik Relation Media Komunikasi Konsep dan Aplikasi.
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
[1]
Prim Masrokan Mutohar, Manajemen Mutu Sekolah, (Yogyakarta: AR-RUZZ
MEDIA, 2013), hlm.191.
[2]
Buchari Halma, Manajemen Corporate dan Strategi Pemasaran Jasa Pendidikan
Fokus pada Mutu dan Layanan Prima, ( Bandung: ALFABETA, 2008), hlm. 139.
[3]
Prim Marokan Mutohar, Manajemen Mutu Sekolah, (Yogjakarta: AR-RUZZ
MEDIA, 2013), hlm.192-193.
[4]
Prim Masrokan, Manajemen Mutu Sekolah, (Yogjakarta:AR-RUZZ MEDIA, 2013), hlm.193.
[5]
Prim Masrokan, Manajemen Mutu Sekolah, (Yogjakareta:AR-RUZZ MEDIA, 2013),
hlm.193.
[6]Prim
Masrokan Mutohar, Manajemen Mutu Sekolah, (Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA,
2013), hlm.193.
[7]
Prim Masrokan, Manajemen Mutu Sekolah, (Yogjakarta: AR-RUZZ MEDIA,
2013), hlm. 194.
[8]
Prim Masrokan, Manajemen Mutu Sekolah, (yogjakarta:AR-RUZZ MEDIA, 2013),
hlm. 194.
[9]Muhaimin,
dkk, Manajemen Pendidikan, (Jakarta: Kencana Prenada Media Grup, 2011),
hlm.23-24.
[10]
Muhaimin, dkk, Manajemen Pendidikan, (Jakarta: Kencana Prenada Media
Grup, 2011), hlm.23-24.
[11]Prim
Masrokan Mutohar, Manajemen Mutu Sekolah, (Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA,
2013), hlm.195.
[12]Prim
Masrokan Mutohar, Manajemen Mutu Sekolah, (Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA,
2013), hlm.197-198.
[13]Prim
Masrokan Mutohar, Manajemen Mutu Sekolah, (Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA,
2013),hlm.200-202.
[14]Prim
Masrokan Mutohar, Manajemen Mutu Sekolah, (Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA,
2013),hlm.202-203.
[15]
Prim Masrokan Mutohar, Manajemen Mutu Sekolah, (Yogyakarta: AR-RUZZ
MEDIA, 2013),hlm.211.
[16]
Rusadi Ruslan, Manajemen Publik Relation Media Komunikasi Konsep dan
Aplikasi , (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), hlm.26.
[17]
Tjipto Fandi, Strategi Pemasaran, (Yogyakarta: Andi Offset, 1999),
hlm.6.
[18]
Buchari Alma, Pemasaran Strategi Jasa Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2003),
hlm.65.
[19]
Prim Masrokan Mutohar, Manajemen Mutu Sekolah, (Yogyakarta: AR-RUZZ
MEDIA, 2013),hlm.216.
[20]
Philip Kotler, Manajemen Pemasaran, (Jakarta: PT.prehalindo, 1997),
hlm.9.
[21]Buchari
Alma, Pemasaran Strategi Jasa Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2003),
hlm.45.
[22]Buchari
Alma, Pemasaran Strategi Jasa Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2003),
hlm.46.
[23]Buchari
Alma, Pemasaran Strategi Jasa Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2003),
hlm.47.
[24]Philip
Kotler, Manajemen Pemasaran, (Jakarta: PT.prehalindo, 1997), hlm.10.
[25]Rusadi
Ruslan, Manajemen Publik Relation Media Komunikasi Konsep dan Aplikasi ,
(Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), hlm.233.
[26]Buchari
Alma, Pemasaran Strategi Jasa Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2003),
hlm.50.
[27]Prim
Masrokan Mutohar, Manajemen Mutu Sekolah, (Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA,
2013), hlm.216.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar